Website Resmi Desa Baturagung Kec. Gubug Kab. Grobogan

Strategi Pengendalian Tikus Sawah

KARAKTERISTIK TIKUS :

  1. Tikus berkembang biak sangat cepat, sepasang tikus menghasilkan lebih dari 1000 ekor keturunan dalam kurun waktu 1 tahun.
  2. Perkembang biakan hanya terjadi pada stadia generatif tanaman dimana dalam kondisi tersedia cukup pakan.
  3. Periode Reproduksi pendek terjadi pada lokasi areal tanaman tidak serempak, dan sebalikna reproduksi panjang pada areal tanaman serempak.
  4. Lubang tikus bercabang-cabang, mempunyai kamar, pintu keluar/masuk dan pintu darurat.
  5. Lubang aktif berarti dihuni oleh tikus
  6. Tikus merusak semua tanaman seperti Padi, Jagung, Kedelai, Umbi-umbian dan tanaman perkebunan
  7. Tikus merusak stadia tanaman, tetapi lebih menyukai tanaman padi pada fase bunting sampai panen.
  8. Tikus sangat suka pematang sawah kotor.

PENYEBAB TIMBULNYA SARANG TIKUS

  1. Tanaman tidak serempak, sehingga tikus selalu tersedia.
  2. Kondisi areal pertanaman yang tidak bersih.
  3. Populasi musuh alami terus berkurang.

STRATEGI PENGENDALIAN TIKUS

  1. SANITASI LINGKUNGAN
  • Sanitasi lingkungan bertujuan untuk membuat tempat tikus tidak nyaman karena tikus tidak menyukai kondisi lingkungan yang bersih.
  • Peralatan yang digunakan adalah mesin pemotong rumput, parang, cangkul dan lainnya.
  • Lokasi yang dibersihkan adalah saluran pematang, tanggul dan lainnya.
  1. BERBURU TIKUS SAAT PENGOLAHAN LAHAN
  • Pada saat pengolahan lahan sarang sementara tikus akan terganggu dan akan keluar dari tempatpersembunyiannya.
  • Pada saat pengolahan lahan dengan cara Gropyokan, diikuti oleh 5-10 orang untuk berburu tikus.
  • Petakan sawah sebaiknya dipasang jaring, Tikus yang terperangkap dibunuh.
  1. PASCA PENGOLAHAN LAHAN
    • Tikus akan pindah ke tempat aman (tanggul besar, tanggul irigasi, semak-semak dan pematang saluran air).
    • Metode pengendalian yang tepat adalah gropyokan.
    • Gropyokan dilakukan dengan cara empos, gali dan bunuh.
    • Gropyokan dilakukan sebelum tanam pada tempat-tempat yang menjadi sumber populasi (tanguul besar, tanggul irigasi, semak-semak dan pematang saluran air).
    • Gerakan ini melibatkan seluruh petani.

 

  1. PENGUMPANAN BERACUN
  • Pengumpanan beracun dilakukan untuk mengendalikan sisa populasi tikus di lapangan. Pengumpanan beracun dimulai dari persemaian.
  • Umpan beracun mulai dipasang sebelum tanam padi.
  • Pemasangan umpan beracun di pematang/tanggul dan disekeliling persawahan.
  • Pada fase tanam padi muda jika terlihat ada jejak tikus atau lubang aktif atau gejala serangan pasanglah umpan beracun. Dipematang/ tanggul dan sekeliling persawahan.
  • Setiap titik umpan digunakan 10-15gr (3 butir per blok).
  • Amati setiap hari (umpan yang dimasukkan terus ditambahi sampai tikus berhenti makan).

 

  1. TRAP BARRIER SYSTEM (TBS)
  • Merupakan sistem tanaman perangkap.
  • Lebih efektif bila dikombinasikan dengan perangkap bubu (kombinasi antara pagar plastik dan perangkap bubu).
  • Metode ini dapat dikombinasikan dengan pengumpanan.
  • Dilakukan untuk mengendalikan populasi.
  • Dapat diterapkan pada persemaian atau secara terkonsentrasi pada petak sawah dengan kerusakan tertinggi (hasil pengamatan).
  • TBS dipasang mengelilingi petak tanaman yang rusak. Pagar plastik setinggi 50-60 cm yang ditegakkan menggunakan ajir bambu, bagian bawah harus terrendam air atau ditimbun lumpur agar tikus tidak menerobos.
  • Amati hasil tangkapan dan matikan dengan cara ditenggelamkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *