Website Resmi Desa Baturagung Kec. Gubug Kab. Grobogan

Mitigasi COVID-19

Mitigasi COVID-19

Dalam jumpa pers ini di hadiri oleh Team gugus tugas Coronavirus AS, William N. Bryan, juga wakil menteri untuk sains dan teknologi di Departemen Keamanan Dalam Negeri dan disaksikan oleh Presiden Trump dan Wakil Presiden Pence. Yang membuat saya tertarik dan akhirnya menjadi referensi bahan tulisan saya di blog tentang cara efektif mitigasi COVID-19 adalah karena Team Gugus Tugas AS itu menyampaikan hasil laporan dari laboratorium biosekuriti Angkatan Darat AS di Fort Detrick, Md.

William Bryan, menyebut bahwa kombinasi sinar ultraviolet (UV) serta temperatur lebih hangat membuat COVID-19 tidak berdaya. “Observasi kami sejauh ini yang paling mencolok adalah efek powerful sinar Matahari sepertinya membunuh virus itu, baik di permukaan maupun di udara,” cetus Bryan. Hasil temuan ini engga main main. Karena disampaikan di Gedung Putih. Riset dilakukan di Lab milik Angkatan Darat. Jadi tingkat validitasnya tinggi sekali.

Agar tidak misleading atas pernyataan virus corona mati karena tempratur panas, sehingga diartikan udara panas seperti di Indonesia itu aman dari Corona. Karena didalam ruangan ber AC tentu suhu dingin dan jauh dari matahari. Maka saya jelaskan secara singkat seperti uraian dari video itu. Bahwa virus itu tidak efektif tersebar lewat udara, apabila suhu panas UV langsung ada dari matahari. Misal, seribu partikel virus tersebar lewat udara. Dalam 18 jam, virus turun menjadi 500. Dalam 18 jam setelah itu, turun menjadi 250, dan seterusnya dan seterusnya. Artinya berlalunya waktu, penyebaran virus lewat udara itu akan menurun dan akhirnya hilang.

Atas dasar itu, maka metode mitigasi atas pandemi ini jadi mudah dirancang khususnya di Indonesia, yang tempraturnya diatas 24 derajat celcius. Kita tidak perlu ada lockdown dan tak perlu social distancing terlalu ekstrim. Biarkan saja orang terus beraktifitas secara normal. Kita harus syukuri karena kita berbeda dengan negara yang berada di sub tropik. Kita berada di daerah equatorial yang kaya UV. Tentu berbeda cara mitigasi kita dengan mereka. Nah dengan asumsi semua orang terinfeksi virus corona atau carrier virus maka cara mitigasi dilakukan sebagai berikut :

Pertama, pastikan semua tempat yang berada di ruangan tertutup menyediakan bahan disfektan. Orang dipaksa untuk disiplin agar sering sering cuci tangan. Mengapa? Cairan dari orang yang terinfeksi virus corona bisa bertahan lama di ruangan tertutup tanpa sinar matahari. Bisa nempel di tombol lift, di pegangan eskalator, di toilet, di sofa cafe, di pegangan jendela atau pintu, tempat duduk angkutan umum dan lain lain. Pemerintah dan pengelola gedung dan fasilitas umum harus menyediakan petugas menjaga dan mengawasi tempat-tempat yang berpotensi sebagai penyebaran virus. Mereka harus dilengkapi dengan alat disinfektan.

Kedua, pastikan semua orang menggunakan masker bila berada di ruangan tertutup termasuk dalam kendaraan. Kalau bisa di setiap tempat atau gedung, di pintu masuk sediakan masker gratis sesuai standar kesehatan. Karena dokter dan paramedis berhadapan langsung dengan pasien terinfeksi, jadi tidak bisa menghindari sebaran virus corona. Pastikan semua dokter dan paramedis punya APD. Yang lebih penting lagi adalah perbanyak ventilator agar proses penyembuhan secara alami dapat berlangsung dan tidak berakibat fatal.

Ketiga, cara pertama dan kedua itu harus disosialisasikan terus menerus kepada publik agar mereka sadar akan kesehatannya. Jangan sampai menakuti-nakuti. Berita soal kematian tentang virus corona sebaiknya dikurangi. Yang diperbanyak adalah berita orang sembuh. Ini penting agar orang tetap waspada namun tidak panik. Karena kepanikan justru membuat imune orang berkurang.

Apakah cara mitigasi tersebut diatas salah. Kita bisa liat fakta di China. Setelah masuk musim semi, dan matahari mulai menampakan diri, musim dingin berlalu. Mitigasi COVID-19 tidak ada lagi seperti lockdown yang pernah dilakukan di Wuhan. China kembali beraktifitas seperti normal namun mitigasi corona tetap dilakukan seperti langkah pertama dan kedua itu. Mereka memang melakukan sosial distancing tetapi tidak ekstrim sehingga menghentikan semua fasilitas umum. Kehidupan berjalan normal namun gaya hidup udah berubah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *